Latihan percakapan: jaga obrolan tetap jalan dengan bersuara
Setiap kotak berisi satu situasi, misalnya teman baru bilang "Aku baru pindah ke Bandung bulan lalu". Tekan Mulai bicara dan tanggapi dengan bersuara: ajukan pertanyaan lanjutan, bagikan sedikit cerita sendiri, atau pamit dengan sopan, lalu lihat kecepatan, kata pengisi, jeda, dan transkripnya.
Cara memakainya
- Baca situasi di kotak. Bayangkan orangnya: rekan kerja di pantry, tetangga baru di kompleks, atau teman dari teman di acara arisan.
- Tekan Mulai bicara dan tanggapi selama 15 sampai 30 detik, seolah dia ada di depanmu.
- Tekan Berhenti. Cek transkripnya: apakah ada pertanyaan? Apakah ada sesuatu tentang dirimu?
- Ulangi situasi yang sama, lalu tekan Ganti yang lain.
Tiga keterampilan yang dilatih di sini
| Keterampilan | Contoh kalimat | Kesalahan yang sering terjadi |
|---|---|---|
| Pertanyaan lanjutan | "Bandung bagian mana? Udah nemu tempat makan favorit?" | Langsung ganti topik ke dirimu sendiri |
| Berbagi cerita sendiri | "Aku juga pernah coba masak rendang, tiga jam dan masih keras dagingnya." | Cerita terlalu panjang sampai dia tidak dapat giliran |
| Pamit dengan sopan | "Seru ngobrol sama kamu. Aku duluan ya, mau ke stasiun." | Menghilang begitu saja atau pura-pura main HP |
Polanya bergantian: dengarkan, tanya, bagikan sedikit, lalu kembalikan ke dia. Obrolan yang enak terasa seperti oper bola, bukan wawancara.
Pertanyaan lanjutan yang bagus
Pertanyaan yang bisa dijawab "iya" atau "nggak" cenderung mematikan obrolan. Ubah menjadi pertanyaan yang mengajak bercerita:
- Bukan "Suka di Bandung?", tapi "Apa yang paling beda dari tempat tinggalmu sebelumnya?"
- Bukan "Capek nggak larinya?", tapi "Gimana rasanya pas kilometer terakhir?"
- Bukan "Anakmu senang sekolah?", tapi "Hari pertamanya gimana?"
Cara pamit yang sopan
Pamit yang baik punya tiga bagian: tanda bahwa kamu menikmati obrolannya, alasan singkat, dan kalimat penutup. Contoh:
"Senang banget ngobrol soal lari tadi. Aku mau ambil minum dulu ya, nanti kabarin kalau ada event lari lagi."
"Wah, udah jam segini. Aku duluan ya, Mas, mau jemput anak. Sampai ketemu Senin."
Di Indonesia, "Aku duluan ya" atau "Mari, Pak" sudah cukup sopan dan umum dipakai. Tidak perlu alasan panjang.
Panduan lengkapnya ada di cara menjaga obrolan tetap jalan dan cara mengakhiri obrolan dengan sopan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kenapa harus berlatih dengan bersuara, bukan dibaca saja?
Karena masalahnya biasanya bukan tidak tahu harus bilang apa, tapi kalimatnya tidak keluar saat dibutuhkan. Mengucapkannya beberapa kali membuat kalimat itu lebih mudah muncul.
Apa yang harus dilakukan kalau lawan bicara cuma menjawab pendek?
Tanya sesuatu yang lebih spesifik dan mudah, atau bagikan cerita kecilmu dulu supaya dia merasa nyaman. Kalau tetap pendek, mungkin dia sedang tidak ingin ngobrol, dan itu bukan salahmu.
Berapa banyak aku boleh bercerita tentang diriku?
Kira-kira satu atau dua kalimat, lalu kembalikan ke dia. Kalau transkripmu berisi lebih dari 30 detik tentang dirimu tanpa pertanyaan, itu terlalu panjang.
Apakah alat ini menilai percakapanku?
Tidak. Alat ini mengukur kecepatan, kata pengisi, dan jeda, serta menampilkan transkrip. Untuk lawan bicara yang benar-benar menjawab dan bertanya balik dalam bahasa Indonesia, ada aplikasi Speaking Coach.